Seribu Hari Wafatnya Mbah Joyodimedjo (Tulisan 1)
Buat orang Jawa, setelah lewat seribu hari meninggal barulah diperbolehkan memasang nisan (atau kijing :bahasa Jawa). Tentu saja juga diikuti oleh beberapa ritual lain seperti pengajian bersama, membersihkan makam, serta pertemuan keluarga besar. Mbah Saya, Ny.Djoyodimedjo meninggal Bulan Februari 2007, beberapa bulan setelah gempa jogja yang merusak rumah almarhumah waktu itu.Dimakamkan di makam desa di sudut desa semboh kidul sidomulyo godean Jogjakarta. Desember ini adalah saatnya keluarga besar Djoyodimedjo berkumpul dan memperingati 1000 hari wafatnya almarhumah.
Setelah satu hari berkeliling Semarang, Sabtu 19 Desember 2009 Saya meluncur menuju Jogjakarta. Cuaca cukup menantang untuk melakukan perjalanan. Langit Biru dan awan-awan kcil berserakan. Setelah melintasi tanjakan Gombel Saya sekeluarga terus melintasi jalur Semarang – Jogjakarta. Di Ungaran, Ibukota Kabupaten Semarang, beberapa pucuk gunung terlihat mnyejukan mata. Kota kecil di Pegunungan ini memang menarik (kecuali kemacetan di jalan 2 arah di tengah pasar kota). Salah satu pucuk gunung itu pastinya Gunung Ungaran, yang punya ketinggian 2.050m.Ungaran terkenal karena banyaknya rumah makan (kota seribu rumah makan), benteng Diponegoro, dan tentunya obyek wisata bandungan.
Dari Bawen kemudian Kami menuju arah Jogjakarta ( di sini kan ada 2 arah, jogja atau solo ). Melewati Kota Ambarawa yang terkenal. Rencana untuk mampir musium Kereta Api diputuskan untuk batal karena anak-anak semua tidur, matahari panas banget disiang bolong ini, dan mengejar waktu tiba di Jogjakarta sebelum sore hari. Hmm Kapan-kapan deh mampir, deket ginih ! (dari semarang).Padahal menarik banget lho mampir ke staisun Ambawara. Museum Kereta Api Ambarawa adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.
Nggak tahu kenapa, siang ini jalur Semarang Jogjakarta cukup lancar, malah cenderung kosong (mungkin karena gue mau lewat ya). Nikmat banget melintasi jalur ini. Pemandangan nggak bikin bosen. Jalurnya variatif. Dibeberap tempat cukup meliuk-liuk dan menantang. Nah, yang paling menantang adalah ketika di seputaran Ambarawa banyak sekali pedagang buah nangka matang. dan besarnya…wuihhh segede gede gentong. Iseng-iseng nyobain yang udah di plastikin..ya ampuuun seplastik 2000 perak isi 10 biji. dan manisssssnya jeekkkk ! jadi deh perjalanan selanjutnya gue nyeti sambil ngemut nangka. Nyam nyam nyam…..
Beberapa saat setelah melewati Muntilan (yg khas karena banyak pedagang patung batu) dan Magelang. Kami memasuki wilayah Jogjakarta. Kota yang unik yang tidak pernah membosankan untuk di jadikan tempat libur. Saya coba jalur alternatif tanpa melewati kota (langsung menuju Godean), melewati desa-desa dan persawahan. Hehehe hasilnya adalah kebingungan. Bahkan Mbah Ti nya yang putra asli Godean juga ikut bingung. “pokoknya sampek ketemu tugu di tengah jalan” petujunk singakt mbah ti. hahaha..tiap per empat an di tiap desa ternyata ada tugu desa. Tapi itulah seninya perjalanan.
Akhirnya Kami tiba di Rumah Mbah Djoyo ketika matahari sudah agak condong ke barat. Rumah Mbah Djoyo yang sekarang kosong tampak sudah dibersihkan bu Lik/Pak Lik yang sudah terlebih dahulu tiba. Rumah yang penuh kenangan liburan di masa kecilku. Perut yang keroncongan mengundang seluruh rombongan makan soto Jogja di pinggir lapangan semboh kidul. Gue paling demen nih Soto….(biasanya sih nyantap soto jogja di Belakang Pasar Bering harjo).
Karena mobil operasional nya cuma satu, jadi deh sore itu Saya mengantar bolak balik ke rumah Mbah, pemakaman, dan rumah Bu Lik. Rencananya memang peringatan 1000 hari Mbah Djoyo akan diadakan di rumah salah satu Bu Lik yang masih tinggak di Jogja. Lokasinya nggak jauh, di dekat stasiun Kemusuk. Desa Kemusuk tuh terkenal karena tempat kelahiran Mantan Presiden Suharto. sore ini saya bolak balik melewati rumah keluarga Pak Harto dan pemakaman keluarganya.
Sore itu juga Saya mengantar ke pemakaman desa tempat makam Mbah Djoyo. Makam desa ini sudah seperti makam keluarga Kami. Hampir seluruh buyut dan keturunannya di makamkam di makam ini. Semoga Allah SWT memberikan ampunan dan tempat yang layak bagi orang-orang tua Kami yang telah mendahului….
Tulisan Anda begitu inspiratif. Gambar yg cukup bagus, teruslah menulis…!!
http://mobil88.wordpress.com
wah, tahun 20077 baru boleh dikijing sekarang ya