Semarang Kaline Banjir…(Keliling Kota Semarang)

Untung aja kemaren nggak hujan di Semarang. Bahkan panas banget. Ini pertama kalinya Saya punya kesempatan keliling-keliling Kota Semarang. Lumayan bisa berkunjung ke Lawang Sewu, Kuil Sam Po Kong, Gereja Bleduk, plus makan nasi ayam di jalan pemuda. Mantaaappp !

Perjalanan ke Semarang di mulai di hari Jumat, 18 Desember 2009. Berlibur dan Cuti bersama memang sudah direncanakan sejak lama. Mumpung saya dan istri cuti, dan mumpung Alya liburan. Plus si Kecil Ufuq, dan Mbak Maroh. Mbah Putri nya yang juga seneng jalan, akhirnya ikut juga. Lengkap Kami ber 6 berlibur ke luar Kota.

Jumat pagi pagi banget, Pukul 03.30 WIB Kami sudah keluar komplek perumahan. “Wah, kemana pagi-pagi Bos !” tanya Satpam penjaga pintu gerbang. ” “Jalan-jalan lah, Kan liburaan, yuukk” Saya menyahut sambil melambaikan tangan. Jakarta masih gelap. Kami meluncur melibas tol Tol Simatupang terus ke Tol Cikampek. Menjelang keluar Cikampek Kami menyempatkan Sholat Subuh (Mesjid Km 57). Mentari mulai menyiratkan sinarnya dari ufuk timur. Sun rise. “papah, ada pelangi tuh”! Alya kegirangan bisa melihat pelangi di antara semburat kemerahan sun rise dan kelap kelip sisa cahaya bintang di langit. keren banget. Ufuq yang sudah bangun pun melampiaskan kegembiraan dengan berlarian di halam parkir.

Perjalanan agak sedikit macet di pertigaan Kopo Cikampek. sebagian jalan sedang dilapis aspal. Banyak kendaraan berat yang parkir memakan sebagian jalan. Jadi deh, mobil dari arah Jakarta memakan sebagian jalur yang ke Jakarta. Untungnya kendaraan belum banyak. Judulnya bukan macet, tersendat. di Pantura Subang – Indramayu lalu lintas lancar.

Kami sarapan di pringsewu Cirebon. selain tempatnya bagus, di pringsewu banyak menggelar barang kerajinan, khususnya dari Cirebon. Ada batik, topeng, wayang, juga makanan makanan khas cirebon. Makanannya sih biasa, tidak terlalu istimewa. Buat Saya sih yang penting bisa meluruskan kaki. Hehehe lumayan.

Sekitar Pk. 10.00 Kami melanjutkan perjalanan menembus perbatasan Jawa Tengah Jawa Barat. Di Brebes Saya sholat Jumat di mesjid kecil dekat POM Bensin. Nah yang menarik, Pom bensin ini adalah Pom bensin dengan toilet terbanyak (tercatat sebagai rekor MURI) kalau nggak salah ada 49 Toilet untuk laki-laki..berderet deret panjang. Wah, kalau semua dipakai berbarengan, limbahnya bisa langsung jadi empang nih. Selain itu ada tempat bermain anak-anak dan tempat istirahat yang representatif (ber AC, ada tukang pijat, dan sewa bad). Kapan-kapan bisa numpang tidur nih.

Cuaca Cerah dan lalu lintas lancar selama di pantura Jawa Tengah. Di alas roban banyak penjual durian di kiri kanan. Bersaing dengan tukang es kelapa muda. Makan siang yang rencananya di alas roban, akhirnya baru terlaksananya menjelang masuk Semarang. Nyam nyam nyam..enak bebek gorengnya, apa yah namanya ?!di

Tiba di Semarang Kami langsung menuju Jalan Semeru ( dekat Akpol). Ini rumah dinas kakak Saya yang sekarang berdinas di Semarang. Perumahannya cukup elit dengan kontur tanah yang berbukit bukit. Kami menginap malam ini di rumah Pakdenya Alya. Walau cukup lelah, tapi semua bahagia bisa tiba di Semarang tepat waktu. Malam hari Kami makan malam dan jalan -jalan di bagian atas Kota Semarang. Taman yang berada di tanjakan Gombel ini dahulu dikenal dengan Taman Tabanas. Sebagai daerah perbukitan, daerah ini lebih sejuk dari Semarang baawah. Dan dari sini kita bisa menikmati pemandangan Kota bawah. Di sekitar tempat ini banyak berdiri Hotel dan restoran. Terletak di Jalan Setiabudi berjarak kurang lebih 8 Km dari tugumuda. Terbuka untuk umum dan setiap saat.Melihat kerlap kerlip Kota Semarang dari atas. Indah !

Pagi-pagi Kami di jemput kawan lama yang tinggal di Semarang, Ari Husna. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Nasi ayam di jalan pemuda depan sekolah kristen.  Walau agak susah parkir dan antri, ueeenaaakkk tenan ! sarapan yang menyenangkan. Kemudian Kami langsung menuju Kuil Sam Po Kong. Kuil yang didominasi warna merah tersebut memang layak dikunjungi. Kuilnya sangat indah, megah, dan bersih. Pengunjungnya tidak dibatasi bagi mereka yang bersembahyang, tapi juga wisatawan seperti Kami. Bahkan Kami di terima dengan sangat ramah oleh petugas-petugas yang ada. Di Salah satu kuil ada petugas yang mempersilahkan Kami apabila ingin diramal. Di tengah lapangan yang cukup luas terdapat patung Laksamana Cheng Ho.

Ini Cerita tentang Klenteng Sam po Kong di Wikipedia :

Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.

Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Karena kaburnya sejarah, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng – mengingat bentuknya berarsitektur cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimeklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa ada seorang awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia merapat ke pantai utara semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mangalami pendangkalan diakibatkan adanya sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.

Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam.

Lapangan terbuka di depan klenteng dan cuaca panas Semarang membuat Kami nggak bisa berlama-lama. Puanaasss banget Semarang ya!. Kemudian, dipandu Arie, Kami keliling keliling Kota tua semarang. Gedung-gedung tua kayaknya sih terawat baik, dan jadi obyek wisata yang menarik. Di Lawang Sewu Kami mampir sebentar. Gedung yagn sekarang di kelola Perumka tampak sedang direnovasi ( dikelilingi pagar seng).

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan yang berusia 181 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, di antaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel. Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

setelah berfoto-foto Kami lanjut ke Gereja Bleduk. Gereja dengan arsitektur kolonial yang indah.

Blenduk bukanlah nama asli dari gereja itu. Masyarakat sekitar menyebut demikian karena bentuk atap dari gereja tersebut berbeda dari gereja pada umumnya. Atap gereja tersebut berbentuk bulat, dan merupakan satu satunya gereja di dunia yang memiliki design bulat seperti itu.

Nama gereja itu sebenarnya ialah Gereja Protestan di Indonesia Bag. Barat (GPIB) Immanuel Semarang, terletak di jalan Letjen.Soeprapto 32. Gereja yang indah ini merupakan tempat beribadah komunitas masyarakat Semarang. Merupakan gereja Kristen tertua di Jawa Tengah. Dibangun tahun 1753 dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Mempunyai dan di dalakubah besar dilapisi perunggumnya terdapat sebuah Orgel Barok. Arsitektur didalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani.
Posisi bangunan ini menghadap ke Selatan. Lantai bangunan hampir sejajar dengan jalan di depannya. Atap bangunan berbentuk kubah dengan penutupnya lapisan logam yang dibentuk oleh usuk kayu jati. Di bawah kubah terdapat lubang cahaya yang menyinari ruang dalam yang luas . Pada sisi bangunan, Timur, Selatan dan Barat terdapat portico bergaya Dorik Romawi yang beratap pelana. Gereja ini memiliki dua buah menara dikiri kanan. Menara ini beratap kubah kecil. pintu masuk merupakan pintu ganda dari panel kayu.

Menurut salah satu jemaat GPIB yang biasa disapa bapak Noya, Gereja Mbelenduk telah mengalami banyak perubahan sejak pembangunan awal. Mula-mula Gereja di bangun pada tahun 1753, berbentuk rumah panggung Jawa, dengan atap yang sesuai dengan arsitektur Jawa. Pada tahun 1787 rumah panggung ini dirombak total. Pada tahun 1894, gedung ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas dengan bentuk seperti sekarang ini. Yaitu dengan dua menara dan atap kubah. Keterangan mengenai Wilde dan Wetmas tertulis pada kolom di belakang mimbar. Bapak Noya menambahkan, pada renovasi terakhir gereja ini bernama Couple Cerk. Nama tersebut diambil dari dua bentuk menara yang beratap kubah.

Gereja itu merupakan bangunan cagar budaya di Kota Semarang. Kota Semarang memang merupakan Kota Cagar Budaya yang harus selalu dilindungi keberadaan bangunan bersejarahnya. semoga bangunan ini dapat terus berdiri dengan kokoh dan menjadi daya tarik dunia untuk berkunjung ke Indonesia.

dari Gereja Bleduk Kami langsung keluar Kota menuju Jogjakarta. Terima kasih Arie, terima kasih Pakde, Bye bye Semarang.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.