Nggak sengaja, kemarin gue menemukan catatan lama. Ternyata catatan gue di hari kerusuhan Jakarta Mei 1998, 11 tahun lalu. Setelah gue baca, seru juga ternyata. Sebelum hilang lagi, baiknya gue tulis ulang. Semoga bias jadi kenangan buat teman-teman yang waktu itu tinggal di Jakarta, termasuk gue.
Kamis 14 Mei 1998 memang hari terburuk dalam sejarah Orde baru di Jakarta. Hari paling kelabu selama gue tinggal di Jakarta.Hari itu gue udah diingatkan orang-orang untuk nggak usah ke kantor, mengingat letak kantor yang jauh di tengah kota. Gue heran dan nggak habis pikir, kenapa orang-orang pada ketakutan begitu. Mereka terlalu termakan isu, pikir gue.Kemarin memang gue sempat heran waktu pasar Blok M tutup jam 6 sore, dan jalan Sudirman yang crowded itu di tutup. Suatu hal yang belum pernah gue lihat sebelumnya. Keherananan gue terjawab ketika kemarin gue lihat dari dalam bis ada demonstrasi mahasiswa Atmajaya di Semanggi dan ada sedikit kepulan api dari ban yang dibakar di tengah jalan. Selain itu ada sepasukan tentara yang siap tempur di perempatan casablanca.
Mahasiswa memang lagi bikin aksi kemarahan.Kemarahan mahasiswa akibat peristiwa Trisakti berdasarah. wajar donk mereka marah.Kalau gue mahasiswa mungkin gue juga ada di jalanan. Kemarin akibatnya jalanan macet dan terlambat pulang. Jakarta penuh dengan spanduk.Nyanyian-nyanyian tukang ngamen mulai bernada keras dan kasar. salah satunya begini, ….tung..tung…tung…gantung suharto!. Gue udah mengira bakal ada aksi kekerasan, tapi tak secepat kenyataan.
Nah Kamis ini, gue pikir biasa aja. Gue, Indra, berangkat kantor agak siang.Kemarin gue ijin hari ini telat karena harus mampir ke Bank. Supaya nggak telat banget, gue naek motor. Sebetulnya gue pengen ke BNI, buka rekening baru. Eh nggak tahu kenapa, BNI Mayestik rame banget dan antri panjang. Gue langsung aja mampir Bank Muamalat, Arthaloka, jalan sudirman. Gue langsung putusin mampir arthaloka, karena gue merasa jalan sudirman sepi banget. Aneh, mencekam.Ada apa ya hari ini. Jangan-jangan ada kerusuhan (seperti isu-isu yang hadir belakangan ini).
waktu asik ngobrol-ngobrol di Bank eh ada pengumuman lewat pengeras suara.”semua karyawan diharap segera pulang karena situasi dan kondisi yang sedang berkembang saat ini dan jangan melewati daerah-daerah sebagai berikut dst..dst..” Gue tersadar, ternyata sebagian komputer sudah dimatikan dari sentral bank. Gue langsung beres-beres dan niat berangkat ke Lapangan Banteng, kantor gue. “Bapak pulang kemana?” tanya teller yang mungkin mau numpang.”saya mau ke kantor di lapangan banteng”, jawab saya sekenanya. “wah denger-denger Harmoni kan rusuh”, Katanya lagi. Gue terus ngeloyor pergi sambil tetap heran. Kasihan mereka pada panik. Gue terus naek motor lewat Salemba, nggak lewat Harmoni.Jalanan sampai dengan Salemba biasa-biasa , tapi memang tidak seramai biasanya. Nggak sepi atau terlalu rame. Memang bukan jam macet.
Dikampus UI Salemba kelihatan suasana massa yang kelihatan berbeda. Di dalam kampus tampak ribuan mahasiswa mendengarkan orasi.Tentara berjaga-jaga disekitar kampus.Sementara massa rakyat di luar kampus menonton. Gue sebetulnya juga mau nonton, tapi motor nggak boleh berhenti di depan kampus.”Jalan terus !”, kata Pak Polisi Militer yang di pinggir jalan. Ya udah gue jalan terus, tapi pelan-pelan sambil nonton.Ternyata kampus-kampus sekitar salemba semua mengadakan mimbar bebas. Gue naek motor mengikuti truk-truk tentara yang beriringan entar menuju kemana..Asik bebas traffic Light.
waktu nyampek Kantor. Semua orang lagi menyimak TV dan radio. Gue baru sadar kalau suasana sedang kacau balau. Radio hampir setiap menit menginformasikan suasana sudut-susut ibukota. “Kawula muda harap tidak melewati..dst..dst” atau “saat ini sedang terjadi kerusuhan massa di daerah..dst..dst” atau “diumumkan untuk kantor ini..sekolah ini..kursus ini..diliburkan sampai dengan pengumuman berikutnya. Dari jendela kantor terlihat asap-asap mengepul,entah dimana. Nggak puas dari jendela, gue sama kawan-kawan naik ke loteng kantor yang berlantai 5. dari loteng barulah terlihat dengan jelas kepulan-kepulan asap yang merata di seluruh penjuru Jakarta. Kami semua terkesima..terhenyak..termangu-mangu..tertegun..atau mungkin ada yang terisak. Gue mulai mengira-ngira daerah yang terbakar..glodok pasti (asapnya terbesar), kemayoran,sepanjang jalan Jayakarta, rawamangun,matraman,jatinegara, cempaka putih. Untuk daerah selatan dan barat nggak kelihatan (tertutup gedung yang lebih tinggi).
Orang-orang kantor mulai terlihat panik. Sebagian yang bawa mobil langsung pulang. eh nggak lama langsung masuk lagi,takut. Sebagian teman-teman nonton massa di sekitar gunung sahari. Gue juga ikutan nonton dari pinggir jalan. Massa terlihat menumpuk di sekitar pasar senen. Nggak bisa maju terus. Kantor gue ada di ring satu (prioritas tertinggi keamanan di jakarta)..so penjagaan memang super ketat. Kemarin gue masih ikut nyela marinir yang ber truk-truk jagain kantor eh sekarang baru tahu gunanya.Sebagian orang kantor niat pulang jalan kaki, nggak ada kendaraan umum. Terbayang gue harus jalan ke Bungur, ampun deh. Jam 16.30 gue pulang juga, naik motor.Disekitar lapangan banteng masih terlihat banyak motor melintas, mobil hampir nggak ada. Digambir, markas Kostrad, penuh dengan truk,tank,panser yang parkir. Masuk ke sekitar Monas tampak konsentrasi tank panser menjaga tempat-tempat strategis kayak istana, Telkom, RRI, dan lain-lain. Pertamakalinya gue naek motor saingan dengan panser di kiri kanan, hebat euy !
masuk ke Jalan Thamrin…
Gile bener..jalan thamrin ..jalan sudirman..sepi..kosong melompong…Biasanya gue benci melihat kemacetan, tapi kali ini gue ngeri melihat sepinya Jakarta. iihhh, terkesan mencekam. Kiri kanan jalan tampak orang berjalan kaki, cukup banyak. Baru kali ini motor jadi kendaraan paling mahal dan bergengsi di jalan sudirman. Sekali gue lihat ada mobil melintas…gile, langsung dilempari massa.Semua perempatan dijaga kendaraan tempur dan tentara siap perang. Juga berikade-berikade kawat berduri. Di depan Atmajaya massa tampak betul-betul menguasai jalan. Gue jalan perlahan, siap berbalik bila kondisi mengancam. Wuih..kayak dipilem-pilem tegangnya. Untung nggak ada apa-apa..(mungkin massa kasihan melihat motor gue yang jelek..).ternyata lagi ada aksi damai mahasiswa yang dijaga tentara. Lepas dari jalan Sudirman gue merasa lepas dari daerah perang. Alhamdulillah,akhirnya sampai Hang Tuah dan masuk ke kawasan Kebayoran.
Gue betul-betul kaget setelah melihat asap-asap yang mengepul. Lho, mosok kebayoran ikut rusuh. Deg ! kaget banget gue melihat dengan kepala sendiri Amigo21 di Velbag terbakar hebat. Ini Plasa dan studio 21 paling awal di Kebayoran Lama, tempat anak-anak Stapala dulu sering nonton bareng. Masuk ke jalan arteri pondok indah tampak massa makin banyak di kiri kanan jalan. Mereka melempari toko-toko di sepanjang jalan. Massa terus bergerak menuju Pondok Indah. waduh, lewat daerah gue dong, langsung gue tancep gas.
Setelah Sholat Asyar dan ganti baju, gue kembali ke jalan arteri di mulut Jalan praja. Massa tampak semakin banyak. Gue menyaksikan tetangga-tetangga gue, ada yang ikutan rusuh, ada yang cuma nonton, ada yang ngasih semangat. Semakin malam massa semakin beringas. Gila, mereka sudah gila. Hampir semua toko hampir lebur.Dan gilanya lagi, mereka rebutan menjarah barang-barang. Gue setengah nggak percaya kalau mereka mengangkut jarahan dengan tenang.Ada telivisi,komputer,jam dinding,peleg mobil,sampai handphone. Dan malam ini, yang ada adalah hukum rimba. Tidak ada tentara atau polisi. Brankas BCA dihancurkan di tengah jalan. Mobil..barang-barang…semua dibakar di tengah jalan. Kejadian yang selama ini cuma ada di TV ternyata terjadi di depan mata. Gedung-gedung di jalan arteri dekat rumah gue hampir semuanya hancur. Untung tidak dibakar. dan gue betul-betul sadar kejadian seperti ini pasti merata di seluruh Jakarta. Isu-isu merebak dengan cepat. katanya KOMDAK diserbu.Katanya ada kudeta.Katanya tentara hanya menjaga istana.Katanya tentara kewalahan.Katanya penjarahan akan semakin menggila. Katanya penjarahan akan memasuki perumahan-perumahan.
Gila,gila. Semakin larut malam keadaan nggak juga mereda. Helikopter terbang rendah, sepertinya hanya mengawasi dengan lampu sorot yang menyilaukan ke kampung-kampung. Sesekali gue ikutan berlari mengikuti massa. Takut juga kalau sampai terinjak atau terkena peluru nyasar. Gue capek dan putus asa, nggak ada habisnya. Gue pulang ke rumah dan tidur di ruang tamu. Telpon terus berdering sampai pagi saling memberi informasi, terutama dengan kakak gue yang tinggal nggak jauh dari Pasar Ciputat yang terbakar hebat.
Wuih, untungnya Jumat keadaan udah agak normal. Sholat jumat di Pondok Indah dijaga 4 panser.Walau kebakaran dan kerusuhan masih ada di sana sini tapi tidak separah kemarin. tanggal 19,20,21 Mei jalanan protokol ibukota masih tetap sepi mencekam. Kayak film-film horor.Bahkan waktu tanggal 20 Mei jalanan dijaga tentara yang jumlahnya betul-betul luar biasa banyak, dan siap tempur. Jalan masuk kuningan dan sudirman dibarikade kawat berduri. Gue yang niat pengen ke kantor, balik pulang lagi. Gue telpon teman-teman gue, semua pada nggak ngantor.Gila juga menyaksikan jalan-jalan protokol yang biasanya rame sekarang jadi sepi dan penuh dengan kendaraan tempur, tentara, dan kawat berduri. Gue pikir, yah jadi deh perang saudara.
Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Ternyata Presiden Suharto mengundurkan diri. Massa yang akan merayakan dengan pawai kemenangan tidak jadi turun ke Jalan. Idola massa adalah Marinir dan Amien Rais. Banyak juga yang menyempatkan foto-foto di tank atau panser. Hehehehe ….
Negara lagi kolaps nih. banyak orang antri ambil uang di ATM. Kemaren gur ikutan antri ambil uang di pondok indah, eh pas udah di depan..uangnya habis. Gue terus jalan-jalan melihat gedung-gedung yang sekarang bentuknya lucu. pada hangus semua atau hangus sebelah. kalau malam jalanan jadi gelap. daerah-daerah pinggiran nggak lagi punya mall…ciputat, cileduk..cipulir..bintaro plaza…bopeng-bopeng. Fresh mart juga. seluruh kebayoran lama pondok indah yang tersisa cuma Mall Pondok Indah. Gue juga jalan-jalan ke matraman,rawamangun,cempaka putih,mampang, pasar minggu..uh jelek. Penuh dengan gedung-gedung hangus. Bekasi dan Depok udah nggak ada mall lagi. Semua anak Mall balik lagi jadi anak pasar….Keadaan kayaknya tidak menentu, masih simpang siur.
Indra
Juni 1998

hrd berkata,
Mei 12, 2009 @ 7:53 pm
never forget the day lah!…
good idea to post it here… jangan sampe forgotten.. one of the darkest history of this country
mochamad arif wibowo berkata,
Mei 13, 2009 @ 12:17 pm
halo Ndra….
keren critanya…jadi inget, waktu tanggal2 tersebut aku, Wong lI, Ali ikutan demo di Malang, cuman kita menunggangi mahasisswa. Yang kita serukan adalah “NIK KAN GAJI”…hehehh..untung gak di gilas kawan2 mahasiswa….
critanya kurang “naik” Ndra..
Jakarta Riot in May - Catatan Harian, Kerusuhan Mei 1998 | GaSTia.Com berkata,
Mei 13, 2009 @ 1:00 pm
[...] Catatan Harian, Kerusuhan Mei 1998 [...]
shavaat berkata,
Mei 20, 2009 @ 3:20 pm
wah, jadi terhayut di suasana saat itu, bang. seru ceritanya.
leny ucrit berkata,
Oktober 5, 2009 @ 11:48 pm
wah wkt itu aq msh SD tu,,bingung ngliat gedung2 dibakar smua.. mga kjadian kya gni g terulang lg.